Mohamad Sanusi | DKI Tunda Bangun Kereta Ringan
348680
single,single-post,postid-348680,single-format-standard,eltd-cpt-1.0,ajax_fade,page_not_loaded,boxed,,banguci-ver-1.0, vertical_menu_with_scroll,smooth_scroll,blog_installed,wpb-js-composer js-comp-ver-4.6.2,vc_responsive
via Koran Sindo

JAKARTA – Wacana Pemprov DKI Jakarta membangun moda transportasi berbasis rel light rail transit (LRT) alias kereta ringan batal dilakukan bulan ini.

LRT pengganti monorel tersebut ditunda sampai proyek mass rapid transit (MRT) selesai dilakukan. Pengamat transportasi Universitas Tarumanagara Leksmono Suryo Putranto menganggapwajarpembangunanLRT tersebut batal dibangun. Alasannya, hingga kini belum ada rencana pembangunan LRT itu sebagai bagian dari transportasi Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang- Bekasi (Jabodetabek).

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) itu menjelaskan, untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta memang perlu pembangunan infrastruktur moda transportasi berbasis rel. Namun, tujuannya jangan hanya atas dasar kebutuhan sesaat seperti Asian Games.

”Infrastruktur harus dibangun berdasarkan tujuan yang jelas. Jangan atas kebutuhan Asian Games atau didasarkan atas ketersediaan investor. Ada risiko besar soal kelanjutannya,” kata Leksmono saat dihubungi kemarin. Pengamat perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga mencatat ada dua hal mengapa LRT batal dibangun. Pertama, sejak awalLRTmemangtidakdisiapkan denganmatangaliashanyaproyek dadakan. Dengan demikian, keberhasilan pembangunannya diragukan, termasuk efektivitasnya.

”Kedua, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jakarta Propertindo yang ditunjuk membangun LRT sejak awal juga tidak siap. Belakangan ini pun banyak direksiyangmundur,” ungkapnya. Sebelumnya Pemprov DKI Jakarta optimistis pembangunan LRT dapat mengurangi kemacetan di Ibu Kota hingga 30%. Syaratnya moda transportasi massal lainnya harus saling terintegrasi.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta, jumlah perjalanan Jakarta, Bogor Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mencapai 25,7 juta perjalanan per hari. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18,7 juta perjalanan (72,95%) merupakan perjalanan internal di DKI Jakarta. Sedangkan 6,9 juta perjalanan (27,05%) merupakan perjalanan dari Bodetabek.

Dari total perjalanan Jabodetabek sebanyak 25,7 juta per hari itu, hanya 6,94 juta perjalanan (27%) yang menggunakan angkutan umum berbasis jalan raya dan rel. Sisanya 18,76 juta perjalanan per hari menggunakan kendaraan pribadi. Anggota Badan Anggaran (Banggar) DKI Jakarta Muhammad Sanusi menjelaskan, dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2016, pemprov menggelontorkan dana Rp3 triliun melalui penyertaan modal pemerintah (PMP) kepada PT Jakarta Propertindo.

Sedianya uang tersebut digunakan untuk membangun LRT. Anggaran tersebut akan dimatikan dan dialokasikan pada anggaran perubahan. ”Tidak bisa dialokasikan. Kan sesuai peraturan daerah (perda) pemberian modal kepada BUMD. Nanti di perubahan baru bisa digunakan,” jelasnya.

Sanusi menjelaskan, proyek LRT milik Pemprov DKI Jakarta belum memiliki kajian matang. PT Jakarta Propertindo yang ditunjuk untuk mengerjakan proyek pembangunan tersebut belum menghitung berapa investasi yang dikeluarkan lantaran data penumpangnya belum ketahuan. Di negara maju, lanjut Sanusi, pembangunan LRT sudah ditinggalkan dan diganti dengan MRT. Daya angkut MRT mencapai 1.200 orang sekali perjalanan, lebih banyak dua kali lipat dibandingkan LRT yang hanya mengangkut 600 orang sekali perjalanan.

Di sisi lain, biaya pembangunan MRT hanya berbeda kurang lebih 20% dari LRT. ”PT Jakarta Propertindobelumbisamenyampaikannya. Tarifnya kan di DPRD. Jadi arahan Presiden agar LRT DKI dibatalkan itu sangat benar,” ujarnya. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, LRT koridor Kelapa Gading-Kebayoran Lama yang rencananya dibangun bulan ini ditunda lantaran sembilan stasiunnya berhimpitan dengan MRT.

Selain itu, penundaan LRT itu juga akibat ada pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang akan dilakukan Juni—Juli mendatang. Namun, dia membantah pembangunan LRT untuk Asian Games batal dilakukan.

”Kami tidakingin overlap dengan pembangunan kereta api cepat. Nah, kita tunda saja LRT timur ke barat itu. Arahan Presiden juga lebih baik tunggu MRT selesai. Tapi, enggak usah khawatir, LRT untuk Asian Games tetap dibangun BUMN PT Adhi Karya. Kita akan kejar yang Bandara- Kampung Bandan,” ungkapnya.

Tarif Transjabodetabek Rp3.500

Masyarakat Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek) yang beraktivitas pulang-pergi ke Jakarta akan dilayani bus dengan tarif Rp3.500. Sedikitnya ada 600 bus yang melayani warga dengan sebutan bus Transjabodetabek. Direktur Utama Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) Pande Putu Yasa mengatakan, 600 bus dari Kementerian Perhubungan akan diserahterimakan ke Perum PPD pada 21 Januari.

Bus-bus tersebut digunakan untuk melayani masyarakat Bodetabek yang beraktivitas di Jakarta. ”Ini akan terintegrasidenganbusTransjakarta sesuai arahan Gubernur. Tarifnya Rp3.500,” tuturnya. Kepala Dishubtrans DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan, dengan ada bus Transjabodetabek, 200 unit angkutan perbatasan terintegrasi bus Transjakarta (APTB) tidaklagi beroperasikeluar kota. Ratusan APTB akan ditempatkan di koridor busway.

APTB bahkan bisa saja menjadi pengumpan menggantikan trayek Metromini yang saat ini sudah dikandangkan sekitar 300 unit. ”APTB mau ditempatkan di mana saja. Nanti akan diatur oleh PT Transportasi Jakarta,” ujarnya.

Selain itu, Dishubtrans juga telah mengimbau pemilik mikrolet segera mengikuti rupiah per kilometer dengan meremajakan armadanya. Apabila mereka tidak mau, rutenya diganti bus yang akan didatangkan PT Transportasi Jakarta.

Bima setiyadi

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published.