JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi mengatakan, banjir Jakarta harus ditanggulangi dengan engineering design di hulu Sungai Ciliwung. “Tindakan Pemprov DKI seperti menyodet Sungai Ciliwung, pembersihan drainase, jembatan, sungai-sungai, serta pemanfaatan waduk dan folder pompa adalah sebuah earling warning terhadap masalah banjir Jakarta,” katanya di gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (21/12/2015).
Ia menegaskan, banjir Jakarta harus ditanggulangi dengan engineering design di hulu Ciliwung, karena inilah cara ampuh untuk mengurangi hingga meniadakan banjir sebagai permasalahan lama Ibukota.
Banjir Jakarta, katanya, antara lain dipicu penggunaan sumur artesis yang marak, baik oleh perseorangan, lembaga maupun industri, sehingga inilah yang menjadi faktor utama penurunan muka tanah (land subsidance) di Ibukota, sehingga di beberapa titik, khususnya di utara Jakarta, tinggi muka tanah lebih rendah dari permukaan laut.
Politisi Gerindra ini menyebut, di kawasan Jakarta Utara, penurunan permukaan tanah mencapai sekitar 50 cm per tahun, sehingga dalam lima tahun ke depan, kawasan di pantau utara Jakarta itu akan mengalami penurunan muka tanah hingga 250 cm atau 2,5 meter.
“Karena itu engineering design di hulu Ciliwung itu perlu agar sistem early warning yang terus dibenahi Pemprov DKI dapat berfungsi maksimal,” tegasnya.
Menurut jebolan Institut Sains dan Teknik Negeri (ISTN) Jakarta ini, kawasan di hulu Ciliwung masih memiliki lahan yang luas untuk dibangun sebagai engineering design, dan harganya pun relatif terjangkau oleh Pemprov DKI, serta merupakan lahan produktif.
“Tanpa sistem ini, Jakarta harus siap banjir (terus-terusan),” tegasnya.
Politisi yang akrab disapa Bang Uci ini juga menyarankan agar Pemprov fokus pada sistem early warning guna mengurangi dan meminimalisir kerugian akibat banjir, karena sistem ini baru bersufat peringatan terhadap bahaya banjir, bukan penanggulangan.
(yul)